Perlukah Mengonsumsi Vitamin?

Perlukah Mengonsumsi Vitamin?

2 menit baca

Sebagian orang mengonsumsi vitamin tanpa mengetahui secara pasti kebutuhan mereka.

Kapsul atau tablet vitamin, terkategori sebagai suplemen, karena kita membutuhkan suplemen untuk melengkapi unsur vitamin yang tidak tercukupi atau tidak terkandung dalam asupan sehari-hari. Kondisi cenderung dialami oleh seseorang yang memiliki asupan sangat buruk, atau gangguan kesehatan yang menyebabkan hambatan penyerapan.

Belakangan ini, dipicu pandemi COVID-19, dengan alasan ingin meningkatkan imunitas tubuh sangat lumrah orang mengonsumsi vitamin secara teratur. Pertanyaan paling mendasar, benarkah hal tersebut dilakukan?

Menurut para ahli kesehatan, langkah awal yang harus dilakukan adalah memerhatikan asupan harian kita. Pada dasarnya, kebutuhan tubuh haruslah dipenuhi melalui makanan. Jadi jika komposisi menu harian tidak selalu seimbang, misalnya kurang sayur dan buah, atau justru kekurangan protein dan karbohidrat; yang mana sangat mungkin dialami jika seseorang menjadi vegan atau vegetarian; maka suplemen vitamin [juga mineral] sangat disarankan.

Khusus bagi pelaku vegan dan vegetarian, yang tidak mengonsumsi daging dan produk olahannya, tambahan vitamin B12  - yang hanya bisa didapat dari daging hewan – sangat penting. Tambahan ini bisa berupa kapsul atau tablet vitamin, tetapi juga berupa makanan yang difortifikasi B-12. Sebenarnya vitamin ini juga bisa didapatkan dari biji-bijian dan kacang-kacangan. Namun jenis B-12 dari unsur nabati diketahui lebih sulit dicerna.

Konsumsi vitamin pada dasarnya perlu dipantau oleh dokter. Hal ini disebabkan jika terjadi penumpukan di dalam tubuh akibat konsumsi yang terlalu banyak, akan mengganggu kesehatan. Vitamin yang kita kenal terdiri atas dua jenis:

  • Vitamin yang larut dalam air. Jenis vitamin ini sangat mudah dicerna tubuh, dan tidak disimpan, melainkan dikeluarkan melalui cairan tubuh.
  • Vitamin yang larut dalam lemak. Jenis vitamin ini yang cenderung memicu keracunan, karena diserap tubuh perlahan dan disimpan lebih lama.

Selain itu, ada beberapa jenis vitamin yang perlu diperhatikan penggunaannya, sehubungan kondisi kesehatan tertentu. Vitamin K, misalnya; banyak sayuran yang mengandung vitamin K, unsur  yang berperan penting pada proses pembekuan darah. Seseorang yang sedang menggunakan obat pengencer darah perlu membatasi asupan vitamin K. Peningkatan vitamin K yang tiba-tiba baik lewat makanan atau suplemen akan membatalkan reaksi obat pegencer darah.

Kita juga perlu memerhatikan vitamin B6. Jika dikonsumsi berlebih, vitamin ini akan memicu gejala neurologis, seperti rasa kebas dan gelitik di kaki.

Pada manula, kita perlu memerhatikan fungsi ginjal. Seiring proses penuaan alami, ginjal tidak lagi bisa berfungsi optimal menyaring, jadi akan lebih baik mengonsumsi vitamin sesuai dengan rekomendasi harian yang telah ditentukan. Dalam kasus ini, lebih sedikit akan lebih baik.

Jadi, sebelum mengonsumsi vitamin, sangat disarankan untuk berkonsultasi dengan dokter. Jika dokter menyarankan hal tersebut, cari atau mintakan vitamin yang dibuat dari bahan alami, sebagai contoh: vitamin C dari jeruk, dan beta-caroten dari sayuran. Informasi ini biasanya tertera pada kemasan berupa non-GMO, organik, tidak mengandung gluten, kedelai dan berasal dari bahan makanan. Cobalah menghindari vitamin sintetis yang dibuat di lab.

Photo by Adam Nieścioruk on Unsplash