Mitos-mitos Alat Kontrasepsi

Mitos-mitos Alat Kontrasepsi

1 menit baca

Alat kontrasepsi telah membantu pasangan merencanakan keluarga selama ini. Namun masih saja ada kabar keliru tentang kontrasepsi. Cermati info yang benar.

Anda dan suami berencana mengatur kelahiran, dan sedang mencari informasi tentang alat kontrasepsi? Cara yang paling tepat adalah berkonsultasi dengan dokter Obgyn. Namun jika ada kerabat atau sahabat yang kemudian berbagi pengetahuan tentang alat kontrasepsi, sebaiknya berhati-hati agar tak tersandung mitos-mitos seperti ini:

  1. Pil kontrasepsi sangat dapat diandalkan menunda kehamilan, karena langsung beraksi setelah dikonsumsi. Tidak selalu benar. Sesungguhnya manfaat pil kontrasepsi ini tergantung pada waktu seorang perempuan mulai mengonsumsinya. Umumnya dibutuhkan 1  siklus menstruasi sebelum pil kontrasepsi berfungsi mencegah kehamilan. Karenanya sangat disarankan agar sejak mengonsumsi pil kontrasepsi hingga 1 siklus menstruasi ke depan, pasangan suami istri tetap menggunakan kontrasepsi jenis lain saat berhubungan seksual.
  2. Pil kontrasepsi hanya dapat digunakan dalam periode yang terbatas. Umumnya pada perempuan yang sehat, pil kontrasepsi dapat digunakan dalam kurun waktu yang panjang, dan masih dapat berfungsi optimal mencegah kehamilan.
  3. Pil kontrasepsi menyebabkan kegemukan. Saat ini industri farmasi telah berhasil menciptakan jenis pil kontrasepsi yang tidak menyebabkan pertambahan berat badan pada perempuan.
  4. Pil kontrasepsi menyebabkan kanker. Sebenarnya pil kontrasepsi memiliki risiko sangat rendah memicu kanker. Sekalipun pernah ditemukan bahwa pil kontrasepsi menyebabkan kanker payudara pada perempuan berusia produktif, tetapi prosentasenya sangat kecil. Sebaliknya pil kotrasepsi bisa mencegah kanker rahim dan kandung kemih sebanyak 50%. Manfaat ini tetap didapatkan sekalipun seorang perempuan berhenti menggunakan pil kontrasepsi.
  5. IUD (Intra Uterine Device) atau AKDR (Alat Kontrasepsi Dalam Rahim) dapat menyebabkan infertilitas (gangguan kesuburan).  Jika seorang perempuan mengalami ISM (Infeksi Seksual Menular), maka AKDR bisa menyebabkannya menjalar ke dalam rahim dan saluran telur, dan dapat menyebabkan ketidaksuburan di masa yang akan datang. Tetapi kondisi ini hanya akan dialami oleh seorang perempuan yang memang awalnya mengidap ISM. Selama seorang perempuan tidak mengidap ISM, tidak ada ancaman infertilitas. Bagi pasangan monogami yang tidak mengidap ISM, AKDR adalah kontrasepsi yang paling aman dan efektif.

Photo By Reproductive Health Supplies Coalition On Unsplash